Analisis Protein dengan Metode Kjeldahl

Protein merupakan asupan nutrisi yang sangat penting buat manusia. Protein berasal dari protein hewani maupun nabati. Masing-masing memiliki fungsi yang bermanfaat untuk tubuh manusia. Ditinjau dari segi struktural, protein merupakan senyawa polimer yang berasal dari monomer asam amino yang terhubung satu sama lain melalui ikatan peptide.

Analisis Protein Kjeldahl
Asam amino

Untuk menganalisis kandungan protein yang terkandung dalam sampel, baik itu dari nabati maupun hewani sering digunakan metode Kjeldahl. Metode ini memang paling popular diantara metode lainnya seperti Enhanced Dumas method dan Methods using UV-visible spectroscopy. Keuntungan menggunakan metode Kjeldahl adalah secara universal, metode ini digunakan sebagai standart international dan digunakan sebagai pembanding metode lainnya. Sedangkan kekurangan menggunakan metode ini adalah sulit memberikan hasil yang sebenarnya (true value) protein, sebab prinsip pengukuran adalah mengukur semua kandungan nitrogen yang ada dalam sampel dan tidak semua nitrogen tersebut berasal dari protein. Sehingga untuk beberapa sampel tertentu dibutuhkan factor koreksi karena masing-masing sampel memiliki perbedaan susunan asam amino (amino acid sequences).

Analisis Protein dengan Metode Kjeldahl

Penjelasan tentang metode Kjeldahl dapat dengan mudah dilakukan dengan mengikuti reaksi berikut:
Analisis Protein dengan Kjeldahl

Analisis protein dengan metode Kjeldahl dapat dilihat pada mekanisme reaksi diatas. Reaksi tersebut secara umum dibagi menjadi 3, antara lain:

1. Digestion
Digestion merupakan proses dimana semua protein yang terkandung didalam sampel didestruksi (dipecah), sehingga ikatan peptide terpecah sampai terbentuk ammonia dalam bentuk ion ammonium (NH4+). Dari hasil ini terbentuk senyawa ammonium sulfat yang merupakan reaksi antara ion ammonium dengan asam sulfat. Proses destruksi dilakukan dengan memanaskan sampel protein pada temperature 3700C. Pada proses ini juga ditambah asam sulfat sebagai agen pengoksidasi dan katalis untuk meningkatkan laju reaksi.

2. Destilasi
Proses ini berfungsi untuk mendapatkan gas ammonia (NH3). Proses destilasi dilakukan dengan cara menaruh hasil destruksi ke destilator. Pada proses ini dilakukan dengan penambahan asam hidroksida (NaOH) sehingga hasil dari reaksi NaOH dengan ammonium sulfat menghasilkan gas ammonia. Gas ammonia ini dikondensasi sehingga menjadi destilat (cair), dimana destilat ini ditampung ke suatu gelas kimia yang sudah terdapat asam borat (reaksi 3). Pada reaksi nomor 3, terlihat hasil reaksi antara asam borat dengan ammonia menghasilkan ion ammonium dan ion borat.

3. Titrasi

Langkah terakhir dalam proses analisis protein adalah titrasi. Dengan perkembangan teknologi saat ini proses titrasi ini dapat dilakukan dengan metode potensiometri. Metode ini dilakukan dengan menggunakan electrode pH. Larutan yang telah mengandung ion borat (hasil reaksi no. 3) dititrasi dengan larutan HCl (asam klorida) dan dilakukan dengan metode potensiometri. Proses ini ditunjukkan melalui reaksi nomor 4, dimana proses titrasi ini dilakukan sampai ion borat menjadi asam borat (netral) dengan adanya ion klorida. Maka berapa jumlah asam klorida yang digunakan akan berfungsi sebagai data untuk mengkalkulasi hasil protein sampel tersebut. 

Oke semoga penjelasan diatas bermanfaat bagi teman-teman yang mencari tahu teori tentang analisis protein dengan menggunakan metode Kjeldahl. 

Salam Smart
gigihkurniawan

Post a Comment

Terima Kasih Atas Kunjungan dan Komentar Anda